Bangko, kabarupdate.id – Polemik ketiadaan jaringan telekomunikasi di Desa Rantau Jering, Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Jambi tak hanya memantik keluhan warga, tetapi juga memicu reaksi luas di media sosial. Kolom komentar halaman akun Facebook Berita Merangin pun dipenuhi beragam tanggapan netizen yang didominasi kritik, sindiran, hingga rasa kecewa terhadap janji pembangunan tower.
Unggahan terkait desa blank spot itu viral dan memancing respons publik. Sejumlah netizen secara terang-terangan mempertanyakan janji Gubernur Jambi, Al Haris, yang sebelumnya mengusung program pembangunan 1.000 tower telekomunikasi
Abdul Raup misalnya, menulis singkat namun tajam, “Janji karet bakar aja,” disertai emoji tertawa, yang menggambarkan ketidakpercayaan terhadap janji tersebut. Senada, Zuky Apnal menyindir, “Lidah tak bertulang, janji ada… tapi janji-janji keluarganya,” yang mengarah pada kritik tajam terhadap komitmen politik.
Nada pesimis juga disampaikan Kaisar Rahman, yang menyebut, “Kalau sudah jadi pasti lupa sama janji waktu kampanye, biasa itu politik.” Komentar ini diperkuat oleh Yoghi Jr. yang menilai, “Kebanyakan janji, akhirnya tidak ditepati.”
Sementara itu, Egi Gunaza menulis, “Janji sudah nuai,” yang menunjukkan anggapan bahwa janji tersebut hanya tinggal kenangan. Nasution dan M Hafiz Afis bahkan secara lugas menyebut, “Janji sebelum jadi,” menegaskan persepsi bahwa janji hanya muncul sebelum menjabat.
Keluhan soal kondisi jaringan juga disuarakan. Ngah Zza mengungkapkan, “Janji ingin beri internet gratis, jaringan pun banyak hilang,” menandakan persoalan nyata di lapangan yang masih dialami masyarakat.
Komentar bernada sinis turut bermunculan. Bai Bangko menulis, “Janji politik kok dipercaya,” sementara Agus Tami menyoroti lemahnya konsekuensi hukum, “Janji politik tidak ada lembaga hukumnya.” Kritik lebih tajam datang dari Mastanar, yang menyebut, “1000 tower dulu, satu pun idak.”
Di sisi lain, M Fauzan menilai banyak janji hanya sebatas “omon-omon”, sementara Sugar Dady menambahkan, “Ngomong besar pas pemilu itu sudah biasa.” Bahkan, komentar seperti “tinggal mimpi” dari Lan Karlan dan “lewat” dari Mardi Santoso menunjukkan bahwa sebagian netizen mulai kehilangan harapan.
Meski demikian, ada pula komentar yang bernada pasrah. Yayah Arisah menyebut, “Ya seperti itu lah kira-kira,” sementara Renata Bilqis dan Toni Arya menyindir bahwa janji sering kali dilupakan setelah tujuan politik tercapai. Istilah “PHP” (Pemberi Harapan Palsu) bahkan digunakan oleh Antozaffar untuk menggambarkan kekecewaan tersebut.
Seperti diketahui, pada masa kampanye Pilgub 2020 lalu, Al Haris mengusung program pembangunan 1.000 tower melalui skema Dumisake (Dua Miliar Satu Kecamatan). Program ini ditujukan untuk membuka akses internet bagi desa-desa yang mengalami blank spot.
Namun hingga kini, warga Rantau Jering masih harus mencari titik tertentu untuk mendapatkan sinyal. Kondisi ini berdampak pada pendidikan, ekonomi, hingga akses informasi masyarakat.
Memanasnya kolom komentar ini menjadi cerminan kuat dari keresahan publik. Media sosial tak lagi sekadar ruang berbagi, tetapi telah menjadi wadah masyarakat untuk menyampaikan kritik dan menagih janji pembangunan.
Kini, publik menunggu langkah nyata. Sebab bagi warga, kehadiran tower internet bukan lagi sekadar janji, melainkan kebutuhan mendesak di era digital.
reporter: Rhomadan Cerbitakasa








