Bangko, kabarupdate.id – Ingatan penguasa rupanya setipis lembaran kalender. Setelah sukses menduduki kursi empuk nomor satu di Kabupaten Merangin, Bupati Sukur kini dituding mendadak “amnesia” alias lupa ingatan terhadap janji-janji politik yang pernah diobralnya demi mendulang suara rakyat.
Borok kegagalan realisasi janji ini dibongkar habis-habisan oleh barisan pendukungnya sendiri, yakni sejumlah pemuda dan pemudi Desa Kungkai yang tergabung dalam tim Milenial SUKA. Mereka yang dulunya berdarah-darah memenangkan sang bupati, kini berbalik arah menjadi pihak yang paling lantang menuntut pertanggungjawaban moral.
Subron, salah satu pentolan Tim Milenial SUKA yang ikut mengawal perjuangan Bupati Sukur sejak awal, mengaku sudah habis kesabaran. Dengan nada kecewa dan penuh kekesalan, ia membeberkan kembali momen sakral saat bupati bersumpah di depan masyarakat Kungkai.
“Pada waktu pengukuhan tim Milenial SUKA dulu, Bupati Sukur sendiri yang ngomong di depan kami semua. Dia sesumbar kalau nanti terpilih jadi Bupati Merangin, jalan di Desa Kungkai ini akan diaspal baru, mulus dari simpang atas sampai ke ujung desa! Dia juga janji mau membangun kembali jembatan baru menggantikan jembatan yang roboh akibat banjir,” ungkap Subron dengan tatapan nanar menatap jalanan yang hancur kupak-kapik.
Namun apa lacur? Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga detik ini, 6 Juli 2026, janji-janji manis saat kampanye itu terbukti menguap begitu saja.
Kondisi jalan utama Desa Kungkai banyak berlobang dan dipenuhi batu-batu tajam yang siap mencelakai warga kapan saja. Lebih parah lagi, jembatan gantung yang menjadi urat nadi perekonomian warga, akses utama menuju kebun-kebun rakyat di seberang sungai, masih dibiarkan putus dan mangkrak pasca-diterjang banjir.
Kondisi ini membuat Milenial SUKA mulai meragukan integritas pemimpin mereka. Mereka mempertanyakan apakah sang bupati memang benar-benar lupa atau sengaja amnesia demi lari dari tanggung jawab.
“Kondisi jalan kami hancur parah dan sepertinya tidak ada sedikit pun perhatian dari Bupati Merangin. Apakah bupati sudah lupa dengan janji-janjinya, atau sengaja dibuat lupa?!” cecar Subron mempertanyakan hati nurani sang bupati.
Milenial SUKA menegaskan bahwa jembatan dan jalan yang layak bukanlah barang mewah, melainkan hak dasar masyarakat untuk menyambung hidup dan memutar roda ekonomi desa. Mereka memperingatkan Bupati Sukur agar tidak main-main dengan keringat para pemuda yang telah mengantarkannya ke gerbang kekuasaan.
“Tolonglah pak bupati, buka mata bapak! Segera perbaiki jalan desa kami dan bangun kembali jembatan gantung kami yang putus itu. Itu akses yang kami lewati setiap hari untuk meningkatkan ekonomi, karena di seberang sana banyak kebun milik warga,” pungkas Subron dengan nada memperingatkan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pendopo Bupati Merangin terkait tuntutan dan tudingan miring dari barisan milenialnya sendiri.
Reporter: Midun









