Bangko, kabarupdate.id – Aroma busuk “proyek cuan” mulai tercium di balik megahnya jargon Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di Merangin, Jambi, seorang wali murid secara frontal membongkar realita pahit di lapangan yang jauh dari janji-janji manis pemerintah. Menu yang disajikan di SDN 114 Pasar Atas, Bangko, dinilai bukan lagi soal gizi, melainkan murni soal bisnis yang mengorbankan perut anak sekolah.
Ampera, salah satu orang tua murid yang tak tahan lagi melihat “dagelan” ini, meluapkan amarahnya. Ia menuding program yang seharusnya menyehatkan generasi bangsa ini telah disulap menjadi mesin pencetak uang oleh pihak-pihak tertentu yang bernaung di bawah SPPG.
Bayangan tentang makanan konsep gizi seimbang sirna seketika saat Ampera menunjukkan apa yang diterima anaknya di sekolah. Menu yang diklaim “bergizi” itu nyatanya hanya berisi sebutir telur, roti eceran yang disebut seharga Rp500, sebungkus kecil kacang, dan sebatang pisang mentah yang keras.
“Ini sudah ada program yang sistematis yang sifatnya bisnis tanpa memikirkan nilai gizi!” tegas Ampera dengan nada geram. “Lalu ada pisang (satu buah) tapi belum masak, kulitnya (hijau) masih keras. Ini bukan untuk manusia, monyet pun tidak mau memakannya!”
Pernyataan “monyet pun tidak mau” ini menjadi tamparan keras bagi penyelenggara program yang mengklaim telah menyusun menu berdasarkan standar nutrisi. Ampera mempertanyakan dengan sarkas: “Jadi nilai gizinya di mana ini?”
Desak Presiden Ambil Tindakan Tegas
BAGI Ampera, kerusakan sistem ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi di tingkat lokal. Ia menilai ada skema bisnis yang sengaja dibiarkan tumbuh subur di atas penderitaan siswa yang mendapatkan makanan tak layak konsumsi.
Tak tanggung-tanggung, ia langsung menodong para pemegang kebijakan tertinggi untuk segera menghentikan program yang dianggap “cacat” ini sebelum semakin banyak anggaran negara yang menguap ke saku pengusaha tanpa dampak nyata bagi siswa.
“Mohon para pemegang kebijakan, Bapak Bupati, Bapak Gubernur, Bapak Presiden, tolong hentikan MBG ini!” serunya penuh keputusasaan sekaligus kemarahan.
Publik Menanti Jawaban: Gizi atau Profit?
KEKECEWAAN Ampera adalah representasi dari keresahan banyak orang tua yang merasa anak mereka hanya dijadikan objek proyek. Jika pisang mentah dan roti murahan tetap menjadi standar di SDN 114 Bangko, maka tagar #MakanBergizi hanya akan menjadi slogan kosong yang menutupi praktik bisnis kotor di balik layar.
Kini bola panas ada di tangan pemerintah. Akankah suara Ampera didengar, ataukah jeritan “Gizi di Mana?” ini akan hilang ditelan birokrasi yang lebih sibuk menghitung untung-rugi ketimbang kesehatan anak negeri?
Sementara itu hingga berita ini diterbitkan, kabarupdate.id belum berhasil mendapat konfirmasi dari pihak SPPG penyuplai menu di SDN 114 Pasar Atas maupun Dinas Pendidikan setempat. Media ini menerima hak jawab narasumber sebagai yang bersangkutan.
reporter: Rhomadan Cerbitakasa








